Penulis: Go Gien Tjwan
ISBN: 978-602-433-974-6
Penerbit: Yayasan Pustaka Obor Indonesia
Tahun: 2020
Halaman: 355 HLM
Ukuran: 14,5 X 21 CM
Go Gien Tjwan sejak usia muda ikut berjuang untuk menegakan kemerdekaan Indonesia sebagai pendiri Angkatan Muda Tionghoa di kota Malang, kota kelahirannya. Kemudian sebagai anggota Partai Sosialis dan pegawai Departemen Luar Negeri, pimpinan Sutan Sjahrir, ia diutus sebagai “mata dan telinga” Departemen itu ke Negeri Belanda. Di sini ia mendapat kesempatan pula untuk melanjutkan studi akademisnya sambal bertindak sebagai wakil Kantor Berita Antara atas permintaan Adam Malik. Hubungan baik antara mereka berdua ini sungguh berdampak pada kehidupan Go Gien Tjwan.
Go GIen Tjwan sendiri memperoleh pendidikan awal dan menengah di Malang, lalu sempat menjadi mahasiswa gelombang pertama pada Faculteit der Letteren en Wijsbegeerte (Fakultas Sastra dan Filsafat) yang didirikan di Jakarta pada tahun 1940; Wim Go-nama yang diadopsinya selagi murid sekolah dasar adalah adisiswa menurut dosen sejarahnya Dr. Elisabeth Keesing. Setelah tentara Jepang menduduki Indonesia pada awal 1942 berakhirlah masa pendidikannya pada tingkat perguruan tinggi, yang baru dapat beliau lanjutkan di tahun 1947.
Setelah Proklamasi 17 Agustus 1945 Go Gien Tjwan ikut mendirikan Angkatan Muda Tionghoa di Malang. Ia memimpin bagian penerangan organisasi, yang diketuai oleh Siau Giok Bie, adik Siauw Giok Tjhan. Di Malang dan Surabaya ia ikut membantu perjuangan kemerdekaan. Tiap hari Rabu pukul 17:45 beliau berorasi selama seperempat jam sebelum Bung Tomo pada pukul 18:00 lewat corong radio di Malang menyemangati para pemuda Tionghoa untuk ikut berjuang.
Go Gien Tjwan diangkat sebagai wakil direktur “Antara” hingga 1965, di bawah pimpinan Adam Malik. Di samping pekerjaannya di KB “Antara”, dan persiapan tesisnya, beliau masih sempat berperan di bidang pendidikan mauoun politik. Go Gien Tjwan antara lain mengajar di Universitas Airlangga Surabaya, dan PTIP di Malang. Pada tahun 1961 beliau ikut mendirikan Universitas Baperki yang kemudian disebut Universitas Replubica (Ureca), dan setelah 1965 sekali lagi berubah nama menjadi Universitas Trisakti.
Di bidang organisasi masyarakat beliau ikut mendirikan Badan Permujawaratan Kewarganegaraan Indonesia (Baperki) Bersama beberapa tokoh lain, seperti Siaw Giok Tjhan, Oei Tjoe Tat, dan Yap Thiam Hien, pada kongres partai democrat Tionghoa Indonesia (PDTI) di Jakarta tanggal 12-13 Maret 1954, semula pada kongres ini diusulkan untuk mendirikan sebuah badan yang mengayomi sebagai pengganti PDTI dengan nama Badan Permusjawaratan Turunan Tionghoa, tetapi atas usul Siaw Giok Tjhan peserta wajibmenyetujui sebuah nama lain, yakni baperki
There are no comments yet, add one below.